Is Press Onder Druk?

Press onder druk or Druk onder press

Selama menjadi wartawan baru pertama kali ini saya merayakan hari Kebebasan Pers se-Dunia. Dan, perayaan perdana kali ini terasa sangat spesial lantaran saya merayakannya di Belanda.

Peringatan hari Kebebasan Persse-Dunia di Negeri Kincir Angin ini diselenggarakan dengan sangat sederhana di Klovenierburgwal Centrum, Amsterdam.

Acaranya diskusi panel, musik dan dansa di akhir perhelatan. Peserta hanya disuguhkan makanan kecil. Bagi yang ingin minuman seperti bir, softdrink, kopi atau lainnya silakan merogoh kocek sendiri. Tak ada minuman gratis kecuali air putih tentunya.

Acara yang paling menyedot perhatian pengunjung yang sebagian besar adalah wartawan Belanda adalah diskusi. Kali ini tema besar diskusi adalah tentang kebebasan pers.

Ini bisa terlihat bagaimana panitia membuat sebuah poster berwarna kuning menyala dengan tinta hitam bertuliskan Press Onder Durk dan Durk Onder Press yang berarti Pers berada dalam tekanan.

Dalam diskusi besar, panitia mendatangkan jurnalis dari empat negara yakni Zimbawe, Bosnia, Eritrea dan Turki. Dari diskusi ini bisa saya simpulkan kebebasan pers Indonesia jauh lebih baik dari mereka.

Di negeri ini, jurnalis bisa mengkritisi kebijakan pemerintah tanpa harus khawatir bila didatangi militer. Bandingkan dengan Eritrea, dimana semua media dikuasai oleh pemerintah. “Tak ada media massa yang dimiliki oleh perusahaan swasta,” kata Solomon Abera, mantan wartawan olahraga dari Eritrea yang sekarang mengasingkan diri di Jerman.

Tak ada media massa yang dimiliki oleh perusahaan swasta,” kata Solomon Abera

Solomon bilang tak ada ruang bagi wartawan Eritrea untuk kritis. Bahkan, ketika melakukan tugas jurnalistiknya, dia harus mendapat pengawalan ketat dari pihak militer.

Kondisi pers di Turki juga tak lebih baik. Pemerintah Turki yang merupakan rezim militer juga sangat ketat mengontrol media. Bahkan, undang-undang di Turki memungkinkan wartawannya yang bekerja di luar negeri bisa dihukum lebih bila dianggap melanggar peraturan.

Kualitas masih minim

Lantas bagaimana dengan kebebasan pers di Indonesia? Tentu kita bisa senang sementara bila dibandingkan dengan negara-negara yang saya sebutkan tadi. Tapi ini bukan berarti tidak ada masalah di negeri ini.

Sebut saja soal konglomerasi media. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menganggap pemilik media yang notabene adalah pengusaha yang banyak duit dan mempunyai dukungan politik yang kuat sebagai suatu ancaman masa depan.

Ini bisa kita lihat bagaimana pemilik televisi menggunakan ruang publik untuk kampanye bagi diri sendiri dalam merebut posisi ketua partai politik. Dalam kampanye pemilihan presiden, kita bisa lihat bagaimana satu pasangan calon mempunyai ruang yang lebih banyak karena mendapat dukungan dari pemilik media.

Tantangan lain bagi kebebasan pers adalah organisasi massa. Kita bisa lihat bagaimana sebuah organisasi massa yang tidak senang dengan sebuah pemberitaan mengobrak-abrik sebuah kantor media.

Perayaan Hari Kebebasan Pers se-Dunia di Amsterdam, Belanda

Tantangan lainnya adalah komitmen terhadap kebebasan pers baik dari masyarakat, pemerintah dan bahkan dari anggota parlemen. Lunturnya komitmen terhadap kebebasan pers ini mulai terlihat dari keinginan pemerintah untuk mengontrol media online. Kita bisa lihat bagaimana seorang menteri ngotot menggolkan sebuah peraturan untuk mengontrol isi situs online.

Yang paling penting bagi saya adalah kualitas jurnalis. Kualitas jurnalis Indonesia memang masih rendah. Ini saya hadapi setiap hari mulai dari hal teknis soal akurasi pengetikan hingga masalah etik seperti amplop. Contohnya soal akurasi penulisan nama, tanggal dan sebagainya.

Dus, hikmah peringatan Kebebasan Pers se-Dunia kali ini bagi saya adalah bagaimana kita sebagai wartawan bisa menjaga dan memelihara kebebasan pers menjadi lebih baik. Mulailah dari diri sendiri dengan meningkatkan kualitas dan menghasilkan karya yang lebih baik. Seiring itu mari bersama bergandeng tangan menjaga wartawan agar tetap independen dan kritis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s