Seratus Hari

Sudah 100 hari sejak kematian Ko Weweh, Arya selalu sakit. Mulai dari sakit kejang, demam, diare hingga kena radang tenggorokan. Arya pun terpaksa harus bolak -balik ke dokter dan menegak berbagai racikan obat yang membuatnya muak dan bosan.

Memang tidak sepanjang 100 hari Arya sakit. Terkadang dua minggu sembuh, seminggu kemudian dia rewel dan muntah-muntah akibat radang.

Bila sudah sakit, badannya seperti terpanggang api. Bibirnya yang mungil tampak lebih merah dari biasanya. Arya pun tak bisa tidur dan makan. Sebentar-bentar bila matanya terlelap, tiba-tiba dia bangun lalu diikuti dengan kejang. Kaki kirinya menegang. Badannya kaku. Matanya mendelik. Diiringi suara tangisan yang menyedihkan.

Oh… anakku! Entah sampai kapan engkau menderita begini. Apakah kami salah mengurusmu, Nak!

Engkau terkadang menguji batas kesabaran dan kemarahan kami. Di saat kami butuh istirahat, engkau pun merengek di tengah pagi buta. Di saat kami sudah sangat lelah, engkau masih saja tak mau tidur.

Memang ini bukan salahmu, Nak! Mungkin kami yang tak bisa mengurusmu dengan benar! Mungkin kami tak mengerti kondisipun sejak awal! Maaf kami ya, Arya! Semoga engkau lekas sembuh dan cepat besar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s