Lebaran

Setiap Lebaran selalu mendatangkan ironi. Tak percaya lihatlah begitu maraknya pengemis, anak jalanan dan manusia gerobak begitu bulan Ramadhan datang.

Biasanya jumlah mereka berlahan-lahan bertambah banyak begitu 1 Syawal diambang pintu. Tetapi setelah Lebaran, mereka lenyap sesunyi mungkin. Jejak kaki mereka tak lagi terpatri pada mesjid-mesjid dan sepanjang jalan.

Aku tak tahu kemana mereka pergi. Tetapi kenapa mereka selalu muncul hanya pas bulan puasa. Kemana mereka di hari-hari biasa? Mungkinkah sebenarnya mereka orang yang mampu? Atau mungkinkah mereka sengaja melaratkan diri di bulan ini.

Ataukah mereka sengaja memanfaatkan kesempatan di bulan ini. Saat semua orang tiba-tiba menjadi dermawan dan taat beragama. Mereka pun menjelma meminta kedermawanan hati sang penderma. Kenapa pula orang tiba-tiba mendadak menjadi dermawan? Kalau bulan biasa, apakah mereka tetap menjadi dermawan?

Semuanya memang persis seperti drama. Ada lakon yang wajar dan ada yang tidak. Ada yang pura-pura sedih, gembira dan adapula yang tak tahu harus bagaimana pada bulan ini.

Cobalah rasakan lantunan takbir dan suara gema bedug bertalu-talu. Ada yang terharu, bersyukur dan ada pula yang mengalami anomali. Sebagian orang sedih atas dosa mereka dimasa lampau, setengahnya lagi bahagia karena kesalahan telah diampuni.

Ah, Lebaran bagiku hanya sebagai jalan menguak kepalsuan. Begitu banyak topeng palsu yang akhirnya terungkap berkat hari yang berkah nan fitri ini. Selamat Lebaran, Teman! May God bless you!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s