Perayaan Kue Bulan yang Meredup

Menyembah Dewi Bulan

Aroma hio yang dibakar sudah tercium ketika memasuki gerbang Kelenteng Ho Tek Bio, Bogor kemarin. Ratusan hio ini mengeluarkan kepulan asap putih sehingga memerihkan mata pengunjung. Tapi ini tak menyurutkan umat Kong Hu Chu Bogor ini bersembahyang dengan khusyuk.

Kemarin, ratusan orang bersembah sujud memohon rejeki dewi bulan. Menurut penanggalan Cina, kemarin tepat pada tanggal 15 bulan delapan atau Peh Gwee Cap Go. Hari ini diyakni sebagai waktu yang baik untuk memohon rejeki karena bulan bersinar sangat terang dan sempurna.

Tanggal ini juga bertepatan dengan Festival Pertengahan Musim Gugur. Sebagai bentuk perayaan, biasanya etnis Cina membuat kue bundar berbentuk bulan. Kue yang dalam bahasa Hokkiannya sebagai Thong Ciu Pia ini dipersembahkan bagi dewa bulan.

Suasana perayaan ini juga terlihat jelas di berbagai pusat perbelanjaan dan hotel-hotel. Hotel Shangri-La Jakarta misalnya. Sejak 8 Agustus lalu, hotel yang terletak di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta sudah memulai perayaan kue bulan.

Setumpuk kue bulan dengan beraneka macam rasa dan kemasan sudah terpajang di sudut hotel ini. Kue khas Shangri-La ini ditempatkan dalam kotak mewah yang dibuat dengan sembilan variasi mulai dari yang tradisional dengan biji teratai halus hingga alpukat dan kacang tanah.

Sebagai puncaknya perayaannya dilakukan kemarin malam. Mereka menggelar Mid Autum Festival Dinner. Pengelola hotel mengajak masyarakat makan bersama sambil menikmati indahnya bulan purnama dengan dihiasi lampion merah dan dekorasi merah dengan kaligrafi Cina. “Acara ini baru dua kali diadakan,” kata Yeo Hui Peng, Manager Hotel Restoran Shang Palace, Hotel Shangri-la Jakarta.

Di Sumatera, perayaan Thong Chiu Phia ini biasanya dimeriahkan dengan permainan dadu. Permainan dimaksudkan untuk mempersatukan para anggota keluarga besar. Biasanya hanya anggota keluarga dan sanak famili saja yang bisa ikut bermain.

Ada enam dadu yang dipergunakan dalam permainan ini. Ketika melempar dadu ke dalam mangkuk berukuran besar, biasanya para peserta sambil berteriak, “Ciong Kuan Na!”

Ciong Kuan adalah hadiah terbesar dalam permainan dadu ini. Jadi mereka berharap dadu ini mengeluarkan angka yang besar. Tetapi jangan dikira hadiahnya berupa uang melainkan kue bulan yang seukuran tampah beras. Sementara hadiah lainnya adalah kue dengan diameter lebih kecil.

Kue-kue biasanya dibeli dari hasil saweran dari para pemain. Pemain yang mendapatkan Ciong Kuan tak perlu menyumbang. Penyumbang terbesar adalah pemain yang paling sedikit mendapatkan kue bulan.

Sayangnya tradisi ini tak lagi mengakar kuat dikalangan generasi muda Cina di Indonesia. Mereka tak lagi merayakan perayaan ini. “Kami cukup sembahyang saja,” kata Ah Yung, pengurus Kelenteng Ho Tek Bio kemarin.

Ironisnya bahkan sebagian pengunjung tak lagi mengerti perayaan Thong Ciu Phia ini. Mereka hanya sekedar ikut-ikutan bersembahyang saja. “Saya cuma tahu ini untuk menghormati Dewi Bulan,” kata Ah Hi, umat di Kelenteng Cing Te Yan, Glodok, Jakarta Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s