Nongkrong Bareng Teroris

Hehe, berawal dari sebuah informasi akhirnya saya dapat sebuah liputan eksklusif. Jelas membuat bangga tapi tidak sombong. Yang penting dari sini saya belajar untuk tidak meremehkan informasi sekecil apapun atau yang kedengarannya sangat konyol. Tetap skeptis!  

Terpidana Bom Bali Nongkrong di Kafe

Ali Imron alias Alik, terpidana seumur hidup kasus peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002, kemarin terlihat nongkrong di Starbucks Coffee, Plaza eX, Jakarta.

JAKARTA — Ali Imron alias Alik, terpidana seumur hidup kasus peledakan bom di Bali pada 12 Oktober 2002, kemarin terlihat nongkrong di Starbucks Coffee, Plaza eX, Jakarta. Ia duduk bersama Brigjen Gorries Mere, Direktur IV Narkoba Badan Rerserse dan Kriminal Mabes Polri, serta psikolog Sarlito Wirawan dan sejumlah orang bersenjata berpakaian preman.

“Saya biasa bareng Pak Gorries,” kata Ali Imron kepada Tempo News Room yang mencegatnya saat keluar dari kafe pada pukul 19.30 WIB.

Pembicaraan Tempo News Room dengan Ali Imron dipotong seseorang yang berdiri di sampingnya. “Kamu berhak untuk tidak menjawab,” kata pria itu, sambil menunjuk Ali Imron. Setengah mengancam, lelaki itu juga meminta Tempo News Room “tidak mengganggu” Ali. Peringatan itu cukup ampuh, Ali tak lagi menjawab pertanyaan.

Adik kandung Amrozi, terpidana mati kasus yang sama, itu mengenakan kemeja kotak-kotak hijau tua, celana hitam, topi hitam, dan bersepatu kulit. Tangannya tidak diborgol. Tidak tampak pula pengawalan ketat polisi. Gorries Mere memakai kemeja putih, menenteng telepon seluler.

Dari kafe, mereka masuk dan melihat-lihat Hardrock Store, yang juga terletak di Plaza X. Lima menit kemudian, mereka meninggalkan tempat itu.

Direktur V Antiteror Bom Detasemen 88 Mabes Polri Brigjen Pranowo Dahlan, ketika dimintai konfirmasi melalui telepon tentang soal itu, mengaku tidak tahu. Namun, ia mengakui, Ali Imron memang sudah berada di Jakarta sejak April lalu.

Tulus Wijayanto, Kepala Penjara Kerobokan, Denpasar, tempat Ali Imron ditahan, membenarkan bahwa Ali bersama Utomo Pamungkas sudah beberapa bulan “dipinjam” oleh Kepolisian Daerah Bali dan Mabes Polri untuk “pengembangan kasus”.

Tulus belum mengetahui kapan dua terpidana itu akan dikembalikan ke sel tahanan. Ia pun menambahkan, peminjaman seorang terpidana memang diperbolehkan. “Apalagi dalam Undang-Undang Terorisme, demi kepentingan negara sangat dimungkinkan,” tuturnya. Ia menegaskan, kini semua tahanan selain Ali dan Utomo tetap di tahanan.

Sarlito Wirawan, yang dihubungi secara terpisah, mengaku bertemu Gorries Mere di Starbucks, Plaza X, untuk urusan pribadi. “Anak saya kehilangan dompet, dan saya minta bantuan dia (Gorries) untuk mencarinya,” kata dia.

Menurut Sarlito, ada enam orang dalam pertemuan itu, tapi ia mengaku hanya mengenal Gorries. Ketika ditanya apakah benar Ali Imron duduk di antara mereka, Sarlito menjawab, “Saya tidak tahu orang gila itu.” Sarlito bahkan mengaku tidak tahu isi pembicaraan antara Gorries dan Ali Imron karena, katanya, “Saya duduk terpisah.”

Ali Imron dinyatakan terbukti menjadi salah satu pelaku peledakan di Paddy’s Cafe dan Sari Club di Jalan Legian, pada 12 Oktober 2002, bersama dua kakaknya, Ali Ghufron dan Amrozi, serta warga negara Malaysia, yakni Dr. Azahari. Setelah peledakan yang menewaskan 202 orang itu, Ali melarikan diri dan akhirnya tertangkap di sebuah pulau kecil di Pantai Samarinda, Kalimantan Timur. edy can/raden rahmadi/bagja/martha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s