Memasuki 30

Hari ini seperti biasa, aku bangun bukan karena memang sudah puas tidur melainkan karena tangisan Pranarya, anakku.  Pranarya, atau yang kami sapa Arya, memang bangun lebih awal seperti biasanya padahal dia sendiri baru terlelap jam 3. 

Arya memang punya energi berlebih. Entah mengapa dia punya begitu bersemangat menyambut pagi sementara pandanya-begitu dia memanggilku, sedang terkapar, menikmati jeda rutinitas hari.

Ya rutinitas sudah seperti tirani. Dia membelenggu hari-hariku. Berangkat jam 9 pagi lalu tiba lagi di rumah jam 11 malam. Si Arya masih juga belum tidur.

Seperti pagi ini, aku meniti tangga berundak keluar dari rumah. Di suatu anak tangga entah keberapa, terbayang perjalanan karier sebagai seorang wartawan. “Masa hampir 30 tahun, masih begini aja!”, suara itu berbisik.

Ah, aku tak menghiraukan bisikan tersebut. Tetapi kok, tergiang-giang terus sepanjang jalan. “Sial !,” kutukku. Aku tak ingin pagi yang cerah ini ternoda karena suara-suara tak sedap ini.

Sekejapku merenung. Memang usiaku memasuki 30, tapi pengalaman sebagai kuli tinta masih seumur jagung. Sialnya lagi, mesti terbelenggu dengan rutinitas.

dari rumah mau naik bemo

One thought on “Memasuki 30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s