Looking for Rudolf?
Posted in Uncategorized on 4 January, 2011 by Edy CanKepala pusing ah..kecil
Posted in Uncategorized on 28 October, 2010 by Edy CanHalo…namaku Arya. Nama panjangku Pranarya Raputra. Sekarang aku udah lima tahun. Sekarang aku sudah tidak pusing lagi kalo naek ayunan. Biar diputar-putar, aku tetap senang kok. Mamanya kalah ama aku.
O iya….aku lupa memperkenalkan diri. Aku anaknya papa Edy. Kata Papa, namaku berasal dari empat kata. Pran, Arya, Ra dan Putra. Jadi kalo digabungkan Pranarya Raputra.
Papa memberikan kata Pran dan Arya. Sementara Mama menyumbangkan kata Ra dan Putra.
Kata “Pran” berasal dari nama Om Dith Pran. Kata papa, Om Pran adalah idolanya. Sementara Arya berarti kesatria. Jadi, papa bilang, Pranarya artinya kurang lebih kesatria yang berhasil berjuang hidup.
Sementara kalo kata Ra, menurut Mama diambil dari kata Mesir yang artinya matahari. Putra ya..artinya putra. Kenapa matahari, karena kata mama aku lahir saat matahari terbit. Jadi kalo namaku digabung semuanya artinya kesatria yang berhasil berjuang hidup saat matahari terbit. Doaiin aku ya!
Ketika Google berperan seperti tuhan
Posted in Media with tags firefox, google, innity, internet explorer, malware, opera on 21 September, 2010 by Edy Can
Kepanikan menyeruak di ruang redaksi KONTAN Online akhir pekan lalu. Semua ini gara-gara Google memblokir situs KONTAN.
Penyebabnya karena situs KONTAN ternyata diblokir oleh Google. Raksasa mesin pencari itu mengumumkan, situs KONTAN mengandung piranti lunak yang mungkin berbahaya bagi komputer pengaksesnya. Yang mengherankan, bukan hanya situs KONTAN saja yang terkena pemblokiran. E- paper KONTAN, content management system KONTAN juga ikut-ikut diblokir.
Situs berita lainnya juga sama. Vivanews, okezone, antara bahkan termasuk kompas juga termasuk yang turut diblokir. Uniknya, pemblokiran ini bisa terlihat hanya bagi pengguna browser Mozilla Firefox versi 3.0 ke atas dan Google Chrome.
Tindak Google cs, membuat para petinggi cemas. Web master, para awak TI segera dihubungi meski sedang menikmati libur akhir pekan. Seorang awak TI yang baru saja menjejakkan kakinya di terminal Kampung Melayu, Jakarta sehabis pulang mudik bahkan harus tergopoh-gopoh mendatangi kantor.
Tak lama diketahui penyebabnya bukan lantaran ada penyusup ke situs KONTAN melainkan karena ada malware dari jasa biro iklan yang bekerjasama dengan KONTAN. Namanya, Innity.
Innity adalah biro iklan online. Umumnya, biro iklan ini bekerjasama dengan banyak situs dan blogs. Dia mencari dan memasangkan iklan di situs atau blogs yang cocok dengan pengiklan.
Akibat malware dari Innity ini banyak situs dan blogs yang menjadi korban. Selain KONTAN, berbagai situs lainnya seperti okezone, bisnis.com, vivanews dan termasuk Kompas. Informasi di internet menyebutkan ada sekitar 600 situs dan blogs yang terinfeksi malware dari Innity ini.
Pengumuman ini kontan saja membikin jantung petinggi dag di dug. Sebab, untuk membersihkan malware itu, semua iklan yang berhubungan dengan Innity harus diputus. Dengan demikian maka otomatis, situs tak akan mendapat pendapatannya.
Saya tidak tahu berapa banyak pendapatan KONTAN yang hilang akibat pengumuman Google itu. Yang pasti, saat itu, situs yang baru saja merubah wajahnya itu tampil polos tanpa iklan. Padahal, biasanya kurang lebihh ada setidaknya ada tiga iklan banner yang saya tahu di situs tersebut. Ini belum terhitung dengan situs lainnya.
Ulah Google ini juga turut merugikan para pembaca yang mengakses memakai Mozilla Firefox dan Google Chrome. Untungnya, peringatan dari Google ini hanya berlangsung sebentar. Namun tetap saja, pencabutanf pengumuman itu sangat bergantung pada kemurahan hati para awak TI Google. Coba bayangkan bila ini berlangsung dalam sepekan saja. Berapa potential lost yang harus diderita situs-situs tersebut.
Dan untungnya, Google tak memonopoli browser. Masih ada browser lainnya seperti Internet Explorer dan Opera. Sehingga, para awak redaksi KONTAN tetap bisa menyajikan berita kepada pembaca. Coba bayangkan bila tidak ada maka Goole akan menjadi tuhan bagi dunia maya. Dia akan menentukan mana yang baik dan mana bagi pembaca.
Biar untung, jadilah kapitalis yang ingin tahu
Posted in Sosial with tags Amerika Serikat, Brazil, China, euro, India, Krisis finansial, Yunani on 21 May, 2010 by Edy CanKesalahan persepsi mengenai tempat investasi membuat banyak investor tekor. Setidaknya ini merupakan pelajaran dari krisis finansial yang terjadi di Amerika Serikat dan Yunani saat ini.
Zachary Karabell, Presiden Direktur River Twice, mengatakan banyak investor yang belum mengubah pandanganya terhadap realitas baru. “Our compass is broken and our desire for safety is leading to ever greater risk. We need to understand that new reality and quickly,” katanya seperti dikutip dari Time, edisi 24 Mei 2010.
Investor seperti ini lebih percaya dan merasa lebih nyaman dengan kondisi perekonomian negara mereka. Para investor ini cenderung menaruh duitnya di pasar modal dan membeli surat utang lokal. Sebab, mereka selalu beranggapan tempat investasi yang berisiko rendah adalah negara yang memiliki sistem aturan yang jelas dan dibarengi dengan penegakkan hukumnya.
Our compass is broken and our desire for safety is leading to ever greater risk. We need to understand that new reality and quickly
Kenyataannya sekarang coba lihat. Amerika Serikat yang mempunyai produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 14,4 triliun pada 2008 atau seperempat dari PDB dunia justru kini sedang berjuang dari krisis finansial yang terjadi 2008 lalu. Negara yang dianggap paling demokratis sejagad ini malah harus berjuang keras dari resesi.
Lalu tengoklah Yunani yang kini sedang berjuang dari jeratan utang. Surat utang negara yang katanya memiliki standar hidup tinggi urutan ke-24 versi The Economist pada 2005 lalu malah dianggap sampah alias junk bond. Pemegang surat utang Yunani siap-siap gigit jari karena surat utang itu sudah tak laku.
Uni Eropa kini malah harus berjuang keras dengan mengucurkan uang sebesar US$ 1 triliun agar krisis utang Yunani tak menyebar ke negara lainnya. Sebab, bila dana bail out tak segera dikucurkan, virus utang Yunani akan menyebar ke Portugal, Spanyol dan Irlandia.
Negara-negara Benua Biru yang notabene sebagian besar negara maju itu juga harus berjuang keras mempertahankan nilai tukar euro, mata uang mereka. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Euro terhadap dollar Amerika Serikat sudah merosot 12,37% sejak awal tahun ini. Bahkan pada Selasa (18/5) lalu, nilai tukar euro mencapai titik terendah dalam empat tahun terakhir yakni di level 1,2202.
Asia membalikkan persepsi
Yang terjadi kini justru negara-negara Asia kecuali Jepang dan Amerika Latin terutama Brazil mulai memimpin pertumbuhan ekonomi. China yang menganut sistem otoritarian kini justru memimpin pertumbuhan ekonomi dunia.
Bank Pembangunan Asia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Negeri Tembok Raksasa ini berkisar 8,9% untuk tahun ini. Sementara ADB memprediksikan pertumbuhan ekonomi India sebesar 8,2% tahun ini.
Di sektor mikro, kinerja bank-bank China juga lebih sehat kendati di-back up oleh pemerintah. Kinerja Bank of China Ltd misalnya. Laba bank pemberi kredit terbesar ketiga di China, naik sebesar 26% menjadi 81,1 miliar yuan pada tahun lalu. Angka ini melebihi prediksi rata-rata analis yang disurvei oleh Bloomberg.
Prestasi yang sama ditorehkan oleh China Construction Bank Corporation, kompetitor Bank of China. Laba bersih bank pengucur kredit terbesar ke dua di China ini naik sebesar 15% pada 2009 menjadi 106,76 miliar yuan. Tak pelak, pemegang saham bank tersebut bersorak tahun ini.
Jadi seperti yang dikatakan Karabell, untuk menghindari investor harus memahami realitas baru dan bergerak secara cepat. Mereka harus menjadi kapitalis yang selalu ingin tahu (The Curious Capitalist).
AJI: RPM Konten Multimedia adalah “Sensor 2.0”
Posted in Media with tags AJI Indonesia, Facebook, internet, Menkominfo, RPM Konten on 20 May, 2010 by Edy CanSiaran Pers 20 Mei 2010
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menolak rencana Menteri Komunikasi dan Informatika untuk melanjutkan pembahasan Rancangan Peraturan Meteri tentang Konten Multimedia. Walaupun muncul halaman event di Facebook yang mengajak orang mengikuti lomba menggambar wajah Nabi Muhammad SAW (Everybody Draw Muhammad Day!), tidak bisa dijadikan alasan untuk mensensor, memblokir, dan memfilter internet. AJI Indonesia menilai, Menkominfo terkesan memanfaatkan situasi ini untuk kembali mengontrol internet.
AJI Indonesia menentang segala bentuk penyalahgunaan ruang kebebasan berekspresi seperti jejaring sosial Facebook untuk menyulut konflik dan menyebarkan kebencian seperti halaman event tersebut. Ruang kebebasan berekspresi harus dimanfaatkan secara positif. Jejaring sosial seperti Facebook semestiya digunakan untuk merekatkan kohesi sosial umat manusia, bukan untuk kegiatan antisosial yang memancing konflik.
Namun AJI Indonesia juga menentang upaya memanfaatkan kasus halaman event di Facebook tersebut untuk mengesahkan regulasi yang antidemokrasi. Alih-alih mengesahkan RPM Konten Multimedia, sebaiknya Menkominfo melakukan langkah-langkah yang proporsional guna menyikapi adanya halaman event di Facebook tersebut. Langkah menyurati pengelola Facebook untuk menghapus halaman event tersebut adalah langkah yang layak didukung.
Namun, dengan menggulirkan wacana pengesahan RPM Konten Multimedia, Menkominfo terkesan “memancing di air keruh” dengan memanfaatkan sentimen umat Islam yang sedang marah terhadap halama
man event Facebook tersebut. Peristiwa tersebut seakan dijadikan legitimasi untuk mengesahkan RPM Konten Multimedia yang tidak demokratis dan telah ditolak banyak orang.
Adanya konten yang menyinggung umat Islam bukan berarti memberi legitimasi Menkominfo untuk menyensor seluruh konten internet
Seperti pernah disampaikan AJI sebelumnya, RPM Konten Multimedia mewajibkan ISP melakukan filtering dan bloking konten-konten yang dinilai illegal. Dalam RPM itu, juga rencananya akan dibentuk Tim Konten Multimedia yang de facto akan berfungsi sebagai lembaga sensor. “Adanya konten yang menyinggung umat Islam bukan berarti memberi legitimasi Menkominfo untuk menyensor seluruh konten internet,” kata Nezar Patria, Ketua AJI Indonesia.
RPM Konten Multimedia merupakan ancaman bagi kebebasan pers karena akan menjadi “sensor 2.0”, dimana ISP dapat memfilter, memblokir, dan menghilangkan halaman yang dianggap illegal. RPM tersebut bertentangan dengan pasal 28 F UUD 1945 dan pasal 4 ayat (2) UU Pers.
Jika RPM Konten Multimedia disahkan, itu sama artinya dengan “membunuh tikus dengan meriam”. “Jangan sampai gara-gara satu halaman event di Facebook, lalu banyak halaman internet yang difilter dan diblokir,” kata Margiyono, koordinator Advokasi AJI Indonesia.
Informasi lebih lanjut:
1. Nezar Patria, Ketua AJI ndonesia (0811829135)
2. Margiyono, Koordinator Advokasi AJI Indonesia (08161370180)
Is Press Onder Druk?
Posted in Media with tags jurnalis, Kebebasan Pers, media, wartawan on 11 May, 2010 by Edy Can
Selama menjadi wartawan baru pertama kali ini saya merayakan hari Kebebasan Pers se-Dunia. Dan, perayaan perdana kali ini terasa sangat spesial lantaran saya merayakannya di Belanda.
Peringatan hari Kebebasan Persse-Dunia di Negeri Kincir Angin ini diselenggarakan dengan sangat sederhana di Klovenierburgwal Centrum, Amsterdam.
Acaranya diskusi panel, musik dan dansa di akhir perhelatan. Peserta hanya disuguhkan makanan kecil. Bagi yang ingin minuman seperti bir, softdrink, kopi atau lainnya silakan merogoh kocek sendiri. Tak ada minuman gratis kecuali air putih tentunya.
Acara yang paling menyedot perhatian pengunjung yang sebagian besar adalah wartawan Belanda adalah diskusi. Kali ini tema besar diskusi adalah tentang kebebasan pers.
Ini bisa terlihat bagaimana panitia membuat sebuah poster berwarna kuning menyala dengan tinta hitam bertuliskan Press Onder Durk dan Durk Onder Press yang berarti Pers berada dalam tekanan.
Dalam diskusi besar, panitia mendatangkan jurnalis dari empat negara yakni Zimbawe, Bosnia, Eritrea dan Turki. Dari diskusi ini bisa saya simpulkan kebebasan pers Indonesia jauh lebih baik dari mereka.
Di negeri ini, jurnalis bisa mengkritisi kebijakan pemerintah tanpa harus khawatir bila didatangi militer. Bandingkan dengan Eritrea, dimana semua media dikuasai oleh pemerintah. “Tak ada media massa yang dimiliki oleh perusahaan swasta,” kata Solomon Abera, mantan wartawan olahraga dari Eritrea yang sekarang mengasingkan diri di Jerman.
Tak ada media massa yang dimiliki oleh perusahaan swasta,” kata Solomon Abera
Solomon bilang tak ada ruang bagi wartawan Eritrea untuk kritis. Bahkan, ketika melakukan tugas jurnalistiknya, dia harus mendapat pengawalan ketat dari pihak militer.
Kondisi pers di Turki juga tak lebih baik. Pemerintah Turki yang merupakan rezim militer juga sangat ketat mengontrol media. Bahkan, undang-undang di Turki memungkinkan wartawannya yang bekerja di luar negeri bisa dihukum lebih bila dianggap melanggar peraturan.
Kualitas masih minim
Lantas bagaimana dengan kebebasan pers di Indonesia? Tentu kita bisa senang sementara bila dibandingkan dengan negara-negara yang saya sebutkan tadi. Tapi ini bukan berarti tidak ada masalah di negeri ini.
Sebut saja soal konglomerasi media. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menganggap pemilik media yang notabene adalah pengusaha yang banyak duit dan mempunyai dukungan politik yang kuat sebagai suatu ancaman masa depan.
Ini bisa kita lihat bagaimana pemilik televisi menggunakan ruang publik untuk kampanye bagi diri sendiri dalam merebut posisi ketua partai politik. Dalam kampanye pemilihan presiden, kita bisa lihat bagaimana satu pasangan calon mempunyai ruang yang lebih banyak karena mendapat dukungan dari pemilik media.
Tantangan lain bagi kebebasan pers adalah organisasi massa. Kita bisa lihat bagaimana sebuah organisasi massa yang tidak senang dengan sebuah pemberitaan mengobrak-abrik sebuah kantor media.
Tantangan lainnya adalah komitmen terhadap kebebasan pers baik dari masyarakat, pemerintah dan bahkan dari anggota parlemen. Lunturnya komitmen terhadap kebebasan pers ini mulai terlihat dari keinginan pemerintah untuk mengontrol media online. Kita bisa lihat bagaimana seorang menteri ngotot menggolkan sebuah peraturan untuk mengontrol isi situs online.
Yang paling penting bagi saya adalah kualitas jurnalis. Kualitas jurnalis Indonesia memang masih rendah. Ini saya hadapi setiap hari mulai dari hal teknis soal akurasi pengetikan hingga masalah etik seperti amplop. Contohnya soal akurasi penulisan nama, tanggal dan sebagainya.
Dus, hikmah peringatan Kebebasan Pers se-Dunia kali ini bagi saya adalah bagaimana kita sebagai wartawan bisa menjaga dan memelihara kebebasan pers menjadi lebih baik. Mulailah dari diri sendiri dengan meningkatkan kualitas dan menghasilkan karya yang lebih baik. Seiring itu mari bersama bergandeng tangan menjaga wartawan agar tetap independen dan kritis
Dua Bayi Baru Dalam Sepekan
Posted in Pers on 16 November, 2007 by Edy CanDalam sepekan ini, dua pasang orang tua mendapat kado istimewa. Mereka mendapatkan berkah dari Tuhan. Sebagai orang tua mereka, telah dipercaya untuk mempunyai seorang anggota keluarga baru.
Satu pasang orang tua yang bergembira ini adalah Ilin dan Supriady. Ilin adalah sohibku yang kini kerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Dulunya dia adalah seorang wartawan tangguh dari grup Jawa Pos.
Sedangkan Supriadi, adalah seorang pegawai negeri sipil di Departemen Keuangan. Saya dan teman-teman segenk lebih menyebutnya dengan AKP Sup. Karena perawakannya persis seperti polisi dan orang sangat kalem sekali.
Jauh deh dibandingkan kami yang urakan dan sangat sangat norak, hahahaha. So, bila bicara dengan AKP Sup, kami harus bergaya Jawa sekali. Bicara pelan dengan kepala manut-manut. Hahahaha….
Satu pasang lagi adalah Celi dan Jojo. Keduanya adalah rekan sekerja sewaktu masih di TEMPO. Hatiku sungguh senang, begitu mendengar kabar dari pasangan muda ini. “He’s born,” begitu tulis Jojo dalam pesan pendeknya.
Membaca pesan pendek itu, saya dapat membayangkan perasaan bangga, haru dan berbunga-bunga kedua orang tua tersebut. Oh… sungguh senangnya!
Selamat buat kalian! Semoga kalian bisa menjaga dan merawat buah hati hasil cinta sampai nafas terhenti dan darah mengalir. Proviciat!







